Breaking News
Loading...
Monday, 19 November 2012




MERDEKA.COM, Inilah pengakuan Eva, bukan nama sebenarnya, pengemis dan joki three in one di sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Anda boleh percaya bisa tidak. Selain sewa bayi antar pengemis dan joki berbiaya Rp 30 ribu per dua jam, rupanya ada sejumlah pengemis rela menjual bayi mereka kepada orang lain.

Ceritanya dua tahun lalu, ketika kawannya bernama Ajeng melahirkan. Ajeng saban hari bekerja sebagai pengemis dan joki. Eva kaget karena bayi itu dijual seharga Rp 350 ribu kepada penjual kopi keliling. Tidak ada yang menegur atau memarahi. Itu urusan pribadi dan menjadi rahasia di antara mereka saja.

Selang beberapa pekan, dia kembali hamil dan melahirkan pada akhir 2011. ”Nah, bayinya dijual lagi seharga Rp 200 ribu kepada joki lain. Emang goblok itu perempuan,” kata Eva kepada merdeka.com Sabtu lalu.

Cerita Ajeng menjual bayi dibenarkan Neneng, kawan Eva berjualan plastik dan mengemis di Masjid Istiqlal. Hampir semua pengemis tahu dengan kisah itu. Setelah menjual anak kedua, dia menghilang tidak kembali lagi ke sana. “Itu sudah biasa. Banyak kok orang menemukan bayi di tong-tong sampah,” tuturnya.

Kalau penemunya pengemis jahat, kata dia, bayi bakal dimanfaatkan, diajak mengemis ke mana-mana. Jika menjadi rezeki pengasong, bakal diajak berjualan keliling di pinggir-pinggir jalan.

Kasus bejat penganiayaan bayi agaknya memang sering terjadi di negeri ini. Mulai sewa, jual beli, pembunuhan, hingga pembuangan bayi. Misalnya, penemuan mayat bayi tersangkut sampah di bantaran Kali Ciliwung, Bukit Duri Tanjakan I RT 10 RW 12, Tebet, Jakarta Selatan, September lalu.

Sebulan kemudian, bayi perempuan berusia dua bulan menggegerkan Warga RT 04/ RW 03, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Bayi malang itu ditemukan di belakang warung, samping apotek Shangrila. Penemunya adalah penjual nasi uduk.

Selang sepekan, seorang pemulung menemukan mayat bayi laki-laki di tong sampah di Jalan Haji Saidi RT 007 RW 005 nomor 49, Kelurahan Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kepolisian sektor setempat menduga bayi itu hasil praktik aborsi karena hamil di luar nikah.

Dalam keluarga miskin, anak-anak selalu menjadi korban pertama. Jual beli hingga penyewaan bayi untuk mengemis adalah sikap sadar untuk mengundang keibaan negara yang tidak pernah peduli dan masyarakat kelewat acuh.

Eva menuturkan jual beli dan sewa bayi sudah menjadi pengetahuan umum dalam komunitas mereka. Jika tidak begitu, mereka tidak akan mendapatkan uang lebih. Menurut Eva, hanya dengan mengundan iba, orang-orang akan memberi uang lebih.

Menurut Asrorun Ni'am Sholeh, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), butuh peran masyarakat luas untuk melindungi anak ini. “Memang negara bertanggung jawab, namun dengan segala kekurangnnya, masyarakat bisa ikut andil di dalamnya,” kata dia menegaskan.
Sumber: Merdeka.com

Sadis Banget Dah...Hewan aja gak rela anak nya diganggu apa lagi di jual..


sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/50a9802ae974b46b0f000030/dari-sewa-hingga-jual-bayi/

0 comments:

Post a Comment