Breaking News
Loading...
Saturday, 17 November 2012



50 Negara Bagian AS Tuntut Kemerdekaan
Jumat, 16 November 2012, 21:16 WIB


yang di mark merah petisi ke White House untuk Berpisah dengan USA

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Hampir seratus persen dari 50 negara bagian di Amerika Serikat, menuntut kemerdekaan. Pelopornya adalah Negara Bagian Texas yang melayangkan petisi untuk memerdekakan diri menyusul terpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden AS. Bendahara Hardin County, Peter Morisson menyarankan warga Texas mendukung 'perceraian damai ini'. Mengutip Washington Post, ia menyatakan dukungan dengan mengatakan adalah kehendak warga Texas untuk memisahkan diri dari 'belatung' yang terpilih kembali.

Aksi merdeka dari pemerintahan federal diikuti negara bagian lain. Hingga Jumat (16/11) hampir seratus persen dari 50 negara bagian di AS melayangkan petisi serupa. Gedung Putih tidak dapat memberi syarat beda menanggapi tuntutan. Syarat dukungan juga diberlakukan sama.

New York Daily News mencatat negara bagian seperti Lousiana menyusul melewati ambang batas tuntutan dengan memperoleh dukungan lebih dari 35 ribu warga. Di Nort Caroline, Alabama, Florida, Tennese, dan Georgia dukungan mulai merangkak melewati 20 ribu, ditaksir akan menyentuh ambang syarat sebelum batas watu 30 hari.
http://www.republika.co.id/berita/in...ut-kemerdekaan

BBC: Petisi untuk memisahkan diri dari AS
13 November 2012 - 22:41 WIB

Totalnya tercatat 20 petisi yang masuk dan salah satunya adalah dari negara bagian Texas, yang ditandatangani oleh 25.000 warga. Jumlah penandatangan itu mencapai batas ambang yang menurut Gedung Putih akan mendapat tanggapan. Sebagian besar dari 20 negara yang mengajukan petisi memilih calon dari Partai Republik, Mitt Romney, dalam pemilihan presiden. Hasil pemilihan di negara bagian Texas memilih Romney dengan selisih 15% dibanding dengan suara untuk Obama.

Banyak yang mengutip preambul Pernyataan Kemerdekaan Amerika dari Inggris, yang menurut pendiri negara sebagai hak mereka untuk 'menghentikan keterkaitan politik' dan membentuk negara baru. Namun petisi dari negara bagian Texas mengeluhkan terjadinya 'pelanggaran terang-terangan' atas hak-hak warga Amerika Serikat.

Petisi itu menyebut Otoritas Keamanan Transportasi dengan menuduh para stafnya melakukan pemeriksaan yang mengganggu di bandara-bandara. Konstitusi Amerika Serikat tidak mencakup ketentuan bagi negara bagian untuk memisahkan diri dan hingga Senin (12/11) Gedung Putih belum memberikan tanggapan. Upaya pemisahan negara bagian pada pertengahan 1800-an memicu perang saudara di Amerika Serikat.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majal...petition.shtml

Amerika Serikat di Ujung Tanduk
Sabtu, 17 November 2012, 00:10 WIB

WASHINGTON -- Kencangnya aksi dukungan petisi merdeka dari Negara Bagian di Amerika Serikat, menciptakan polemik dan berdebatan di warga dan pengamat AS. Profesor Jason Casellas dari Universitas Texas mengatakan kencangnya dukungan untuk merdeka adalah sindiran politis bagi pemerintahan di Washington. Hal tersebut menandakan masyarakat oposisi yang mulai mengakar. (baca: Amerika Serikat Terancam Bubar).

Menurutnya, kekecewaan masyarakat, khususnya di Texas, adalah wajar. Apalagi negara bagian tersebut adalah lumbung suara bagi Partai Republik yang mengusung Mitt Romney, calon Presiden AS yang dikalahkan Barack Obama. Sementara itu kalangan nasionalis di AS menirukan gerakan serupa. ABC News melansir petisi tandingan muncul di laman resmi Gedung Putih. Walau tidak sepopuler petisi merdeka, aksi menolak pemisahan tercatat mulai memperoleh dukungan lebih dari sepuluh ribu. (baca: 50 Negara Bagian AS Tuntut Kemerdekaan).

Tidak disebutkan siapa motor kelompok nasionalis tersebut. Namun dalam petisinya mereka meminta agar Presiden Barack Obama dan Kongres mengeluarkan regulasi darurat menjawab gertakan masyarakat AS kali ini. Kelompok ini mendesak agar presiden tegas terhadap warga yang dianggap melakukan makar. Dalam petisinya mereka meminta agar presiden melucuti status warganegara pendukung pemisahan, dan mendeportasi warga tersebut.



Negara bagian TEXAS di AS adalah salah satu wilayah yang kaya karena industri migasnya, sampai saat ini. Meskipun memiliki 51 negara bagian, ternyata tidak semua negara bagian itu kaya-kaya, seperti halnya dengan provinsi di Indonesia saat ini. Di AS itu, bahkan ada negara bagian yang PDB yang disumbangkannya secara nasional, dibawah 2% dari total GNP AS. Adapun negara bagian yang kaya-kaya, antara lain Texas, California, dan New York. Wilayah itu menyumbang lebih dari separuh GNP AS saat ini. Nah, kok mengapa mereka mau merdeka? Itu alasan karena OBAMA terpilih kembali, kayaknya sih alasan yang dicari-cari saja. Alasan lebih jauh sesungguhnya terkait masalah ekonomi. Krisis ekonomi di AS sejak 2008 lalu sampai kini masih meninggalkan banyak kesulitan dan pengangguran yang tinggi. Permintaan energi seperti minyak, menurun drastis di seluruh dunia, termasuk permintaan minyak di tambang-tambang yang dimiliki negara bagian Texas tentunya. Akibatmya, selain pendapatan menurun dan pengangguran, kesulitan ekonomi semakin memukul industri-industri di banyak negara bagian di AS, apalagi barang import terus menyerbu dan mengalahkan industri dalam negeri. Sejarah kemerdekaan TEXAS sendiri di masa lalu, yang memisahkan diri dari Mexico sebelumnya, memang sangat kental dengan masalah ekonomi (khususnya minyak), seperti yang ditulis dalam sebuah analisa tentang sebab-sebab Texas mau minta merdeka dan mengapa warga Texas mau merdeka dari USA saat ini.

Lalu apa relevansinya dengan NKRI?
Sangat relevan sekali. Kasus bubarnya Uni-Sovyet, dan mungkin tak lama lagi akan dialami USA, sangat menarik dikaji oleh negeri kita yang juga dikenal sebagai negeri multi-kultur dan etnis (bhinneka tunggal Ika). Uni Sovyet dan AS dikenal sebagai negara multi etnis, budaya dan bahasa, sama seperti Indonesia. Kalau Uni Sovyet dulu bisa bubar akibat dipicu lemahnya kepemimpinan Pusat di Kremlin dan akibat kesulitan ekonomi karena defisit APBN yang sangat besar setelah perang Afghanistan, sehingga kontrol ke negara-negara satelitnya menjadi lemah (karena subsdi dari "Pusat" semakin kurang). Maka pemerintahan AS sekarang pun memiliki gejala-gejala sama dengan kondisi Uni Sovyet sebelum bubar dulu. Kesulitan ekonomi akibat krisis finansial tahun 2008 belum juga berhenti, sementara keuangan negara terus dibayangi defisit dengan utang Pemerintah sudah melebihi US$ 15 triliun. Akibat semua itu, bantuan sosial dan jaminan sosial untuk rakyat AS banyak yang dipotong Pemerintah Federal maupun Pemerintah negara bagian, yang berujung pada sangat menderitanya warga AS di seantero negeri (terutama kalangan menengah kebawah yang menyebut dirinya "We are 99%", sementara yang 1% adalah Kapitalist sekelas Bill Gates dan penguasa pasar modal dan sektor keuangan/perbankan). Karena sebelumnya mereka (yang 99%) sudah terbiasa hidup enak karena adanya subsidi-subsidi sosial dari negara. Inilah salah satu bibit-bibit kekecewaan itu. Lalu beberapa negara bagian yang kaya seperti Texas itu, merasa sekiranya mereka diperkenankan mengurusi masalah perekonomian negara bagiannya sendiri, tidak akanlah rakyatnya semenderita seperti saat ini. Maka minta merdeka dari pusat (Pemerintah Federal) adalah sebuah pilihan yang masuk akal jua.

Kaitan antara krisis ekonomi dan separatisme, di negara kita pun sering terjadi. Terakhir waktu krisis tahun 1997 lalu (krismon), hampir saja NKRI terpecah belah menjadi negara-negara kecil seperti zaman-zaman kerajaan dulu. Itu semua akibat daerah-daerah merasa tidak diurusi dan diperhatikan lagi oleh Pusat. Beberapa daerah yang kaya sumber daya alam seperti Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Papua, Sulsel, Sulut dan Kaltim, kemudian merasa kesal karena kekayaan alam di wilayahnya tak banyak memberikan konstribusi pada kesejahteraan penduduk mereka. Tuntutan separatisme pun kemudian bergaung keras di wilayah itu. Dalam sejarah separatisme di NKRI sejak 1945 lalu, selalu saja yang banyak menuntut merdeka dari NKRI itu, adalah provinsi-provinsi yang kaya akan sumber daya alam, sepeti halnya Texas di Amerika Serikat saat ini. Selanjutnya kalau kita melihat sejarah separatisme di NKRI, terutama saat awal-awal reformasi dulu ketika banyak daerah yang menuntut merdeka (separatisme), kita beranggapan bahwa kekuatan asing berada dibalik upaya meminta merdeka itu. Tapi melihat kasus di AS saat ini, kita jadi berfikir ulang, apa iya karena bantuan asing maka semangat separatisme itu muncul di negeri kita? Apa iya orang-orang AS di Texas atau negara bagian lainnya di AS yang saat ini melakukan gerakan separatisme itu, minta merdeka dari Pusat karena digosok-gosok China atau Cuba misalnya? Jelas tidaklah yau! Begitu pula dengan NKRI ke depan. Sebaiknya para elit di Jakarta (Pusat) jangan mementingkan dirinya, kelompok dan golongannya saja, dengan mengabaikan kepentingan penduduk dan rakyat yang tinggal jauh di luar Jakarta. Atau kita akan bernasib sama seperti AS dan Uni Sovyet pula?






sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/50a6ced705346ac8730000b4/ri-perlu-introspeksi-as-menuju-tragedi-uni-sovyet-50-negara-bagiannya-minta-merdeka/

0 comments:

Post a Comment